Dasar Tali Temali dan Kerja Geladak


Bab I
Tali dan Pemakaiannya di Kapal

____________________

Bab II
Pembuatan Tali

__________________

Bab III
Mempergunakan Tali

____________________













 



































 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kembali ke menu awal.....

BAB III
MEMPERGUNAKAN TALI

Pengawetan tali-tali dengan ter :
Untuk mengawetkan tali-tali terhadap cuaca atau yang akan direndam lama kedalam air dilumuri dengan minyak hitam atau tar.

Tar itu serupa seperti di Indonesia digunakan untuk melumuri kayu-kayu di bangunan rumah atas untuk menghindari kerusakan oleh rayap-rayap. Untuk tali, minyak yang hampir serupa dinamakan "Archangel tar" dan dengan memberi ini maka berat tali akan bertambah 5% sedangkan kekuatannya akan berkurang dari 7 s/d 12,5%.

Namun demikian kekuatan tali di umur akan jauh lebih lama. Untuk pemakaian tali di kapal maka pihak kapal dapat meminta kepada pabrik pembuatan tali dengan tambahan beaya sedikit agar tali dapat dibuat kedap air.

Umur dari tali akan diPerpanjang dengan cara "waterproofing" ini dan ini tidak akan mempengaruhi berat
maupun kekuatan dari tali itu. Tapi biasanya tali yang di-supply telah dilenturi dengan minyak.

Membongkar gulungan tali baru:
Bilamana kami hendak memakai tali baru maka harus dikeluarkan dahulu dari gulungannya atau coilnya.

Dan bilamana tidak diketahui caranya akan sering menyebabkan bahwa tali menjadi kusut,dan untuk tali tros atau yang besar ukurannya akan memerlukan waktu seharian penuh untuk melaksanakannya.

Untuk tali yang berputar ke arah kanan kami letakkan gulungan tali ditempat yang datar dengan arah gulungan berputar ke arah kiri jadi berlawanan dengan putaran tali kanan. Sesudah itu kami mengambil ujung tali dari sebelah dalam dan meletakkan di atas dek kapal dengan berputar ke kanan.

Dengan cara ini maka tali tidak menjadi kusut. Untuk tali yang berputar ke kiri kita melaksanakan sebaliknya.

Namun hal ini hanya berlaku untuk mengeluarkan tali dari gulungan baru. Semua tali-tali bilamana ditaruh diatas dek harus diletakkan atau diputar sesuai dengan arah putar untai-untai dari pada tali.


Bilamana untainya berputar ke kiri maka menggulungnya juga harus ke arah kiri jadi berlawanan dengan arah jarum jam.

Bilamana tidak maka selain susah menggulungnya maka pintalan dari untai-untai dapat menjadi renggang sehingga dengan demikian akan mengurangi kekuatan dari tali itu sendiri.

Demikian juga bilamana kita meletakkan tali di atas kepala winch harus sesuai dengan putaran winch sewaktu menghibob.

Menggulung tali adalah pekerjaan yang akan berulang-ulang kali dilakukan di kapal dan dengan ini dimaksud agar tali maupun kawat baja akan segeredapat dipakai bilamana diperlukan.

Menggulung dengan cara salah juga akan membuat tali itu mudah kusut. Tali yang lebih besar ukurannya tentunya akan lebih besar pula lubang gulungannya.

Jika tros atau kawat dipersiapkan untuk di aria maka, dipersiapkan agar gulungan tersusun dengan rapi dan berdekatan tempat di tali, keluar kapal sehingga keluarnya tali dari kapal tidak mengalami hambatan dan dapat berjalan dengan cepat.

Untuk tali kawat sesuai dengan pintalannya juga digulung kiri atau kanan namun disebabkan oleh kekakuannya bila hal tersebut susah dilaksanakan maka kita menggulung sesuai angka 8 (delapan).

Cara mengikat tali atau tali kawat di kapal:
Sebuah dadung akan diikat pada bolder atau tunggak penambat kapal di atas geladak kapal maupun kepada sebuah kaitan tupai-tupai dengan susunan tali atau kawat sesuai angka delapan.

Banyaknya gulungan angka delapan tergantung kepada ke kuatan yang akan dialami oleh tali atau kawat itu, jadi pada kekuatan tarikan.

Namun biasanya untuk dadung sebanyak empat kali dan untuk kawat enam kali sudah dianggap cukup untuk kekuatan tarikan.

Untuk gulungan yang terakhir lebih baik dilaksanakan dengan gulungan terbalik. Pada waktu mengikat ke atas tonggak pengikat terutama untuk kawat baja harus diikat ikatan delapannya agar tidak mudah lepas.

Untuk kawat baja dipergunakan stopper dari rantai. Dibelit satu kali pada kawat dan diputar sesuai jalan dari untai kawat. Ada pula yang menggunakan dua belitan dengan jarak baru rantainya diputar sesuai dengan arah jalan dari untai-untai kawat.

Cara ini dapat juga dilaksanakan meskipun dalam membukanya bilamana kawat sudah dibelit pada tonggak pengikat kadang-kadang akan mendapat kesukaran dalam cara membukanya.

Untuk menstoppor tros atau dadung kami menggunakan tali yang lebih kecil atau pintalan tali. Untuk menstoppor maka jalan dari tali stoppor jalannya berlawanan dengan jalannya arah dari untai-untai tali sehingga dengan ini maka stoppor akan lebih keras menggigit.


Orang yang menstoppor demi keamanannya lebih balk berdiri di luar lengkungan dari kawat. atau tros yang mengarah ke tonggak pengikat. Seperti pada kawat maka pada tali juga dapat digunakan stopper dengan menggunakan dua belitan pada tros atau dadung.

Untuk ini maka stoppor dapat mengikuti jalan dari untai-untai dengan tidak mengurangi kuatnya gigitan stoppor tali pada dadung.

Seperti terlihat pada gambar maka pada (1) dimulai dengan lilitan pertama dan pada (2) adalah lilitan kedua yang dibuat antara lilitan pertama dengan tali.

Pada (3) dengan melalui bawah tali lalu dikeluarkan lagi, dan ujungnya dipegang oleh seorang sambil menunggu dadung dipindahkan dari kepala winch dan dibelitkan ke tonggak pengikat.

Setelah selesai dibelit pada tonggak pengikat baru stoppor dilepas. Tali-tali yang sedang ukurannya umpama tali bendera atau tali gai-gai diikat pada tupai-tupai tegak dikapal.

Bilamana talinya pendek dan tidak akan menggantung maka cara mengikat pada tupai-tupai cukup seperti terlihat pada gambar. Hanya ikatan terakhir pada tupai-tupai harus dibalik agar tidak mudah terlepas dan setagai kunci pada ikatan angka delapan.

Selain tonggak pengikat maka di kapal juga terdapat sarana-sarana pengikat yang lain seperti contoh dibawah ini:

Cara mengikat tali pada kapal selain pada tonggak pengikat dan pada tupai-tupai juga dapat dilaksanakan kepada tanduk pengikat yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan staghorn.

Tanduk pengikat terdapat pada dewi-dewi sekoci pada kapal-kapal dimana tali dari dewi-dewi masih terbuat dari tali.

Namun sekarang sudah jarang didapat di kapal-kapal besar akan tetapi di kapal-kapal pesiar masih terdapat.

Contoh pengikatan maupun meng-aria tali sesuai dengan contoh gambar:

Pada tali-tali yang diikat pada tupai-tupai umpama tali bendera atau tali gai-gai yang terlalu panjang agar tidak terkena air dan supaya rapi kelihatannya harus digulung secara ini:

kembali ke atas...